Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Gunung, Sungai, Laut dan Kisah Yang Kian Larut

Berdesakan: Pintu Masuk Pura Luhur Poten Bromo Sore itu (17/7) saya menunggu kedatangan seorang #TemanJalan, Bang Yan nama panggilannya. Seorang fotografer asal kota Solo, Jawa Tengah. Rencananya dia ingin mengeksplore Probolinggo, kebetulan hari itu bertepatan dengan perayaan Hari Raya Yadnya Kasada Suku Tengger, ok jadwal pertama kita akan naik ke dataran tinggi Gunung Bromo. Singkat cerita Bang Yan sudah saya jemput di Setasiun Kota Probolinggo, setelah prepare dirumah saya, kami melajuhkan sepeda menuju acara Yadnya Kasada. Sebelumnya kami mampir dirumah salah teman om Astono Singgih , fotografer asal Sapikerep, kabupaten Probolinggo, dimana mas Fano Dwinanda Teman jalan sekaligus fotografer romantis menunggu saya dan bang yan. Setelah ngobrol kesana-kemari seputaran fotografi, kami lanjutkan perjalanan menuju acara tersebut, karena memang waktunya sudah agak malam dan acara akan segera dimulai. Ramah: Kediaman Om Astono Singgih   Sampai di Pendopo...

Kekhawatiran Nikmat

Portrait Mbah Nikmat Kemarin (4/7) kotaku terselimuti awan mendung, mungkin akan turun hujan. Saat itu aku berada disebuah pasar tempat aku bertemu pak Sanom si penjual burung. Seperti biasa ku langkahkan kaki sembari mencari-cari momen yang bisa diabadikan. Tidak beberapa lama langkahku berhenti ketika melihat seorang nenek yang berdiri di pintu warungnya. Mbah Monikmat (67), itu yang keluar ketika saya tanya perihal nama dan usianya, nenek dari satu cucu dan Ibu dari satu anak ini ternyata tidak bisa membaca dan menulis (buta aksara. red). Berjualan makanan dan minuman sudah dia lakoni bersama suaminya sejak 14 tahun silam. Tidak ada yang ia keluhkan dari itu hanya saja kondisi pasar yang semakin lama sekamin sepi yang membuatnya semakin khawatir. "Masih ramai dulu nak, sekarang sudah sepi, dapat lima puluh ribu rupiah saja sudah alhamdulillah, kalau sekarang" Jelasnya sembari tersenyum. Aku semakin tidak bisa menahan gejolak dihati, aku tidak telalu ...

nasib sepeda Bekas, di tangan bernoda Pelumas

Framing: Pak Suparman  Masih di tempat dan hari yang sama (4/7), dimana sebelumnya aku bertemu dengan mbah Monikmat. Tidak begitu jahu dari tempatku berdiri, terdengar suara ketukan palu yang sangat nyaring, lalu aku berjalan kearah suara itu dan mendapati lelaki tua sedang duduk dan sibuk mengotak atik sepeda bekas. Pak Suparman (60) atau akrab dipanggil Parman ternyata seorang pedagang sepeda bekas di Pasar Mangunharjo Kota Probolinggo, sejak 30 tahun yang lalu, bukan hanya menjual dia juga menerima jasa membetulkan sepeda rusak. Di tangannya, sepeda bekas/rusak berubah menjadi sepeda yang layak jual dan aman untuk digunakan. Tangannya yang keriput masih tak kehilangan tenaga, mungkin hanya sedikit mulai gemetar kalau aku tak salah melihat. Berlumuran oli dan minyak pelumas sudah menjadi hiasan telapak tangannya setiap hari, Eh maaf bukan setiap hari, sebab ini adalah pelanggan pertama setelah beberapa hari sepi, katanya. Sepeda dan asesoris bekas y...

KEYAKINAN DAN BUDAYA

Juxta Position : Penduduk berangkat dan pulang dari sumber air  Masih tentang Bondowoso, khususnya desa taman krocok. Sebuah desa dengan keasriannya, baik alam hingga budaya masyarakatnya. Disana masih bisa kita jumpai rutinitas penduduk mencuci dan mandi di sumber air setiap pagi dan sore hari, sembari membawa ember berisikan sabun dan pakain yang hendak dicuci. Tak jarang juga kita akan menjumpai masyarakat mencuci kendaraan dan mengisi air dilokasi sumber. Kerukunan antar penduduk desa tersebut memang tidak bisa dianggap remeh, disana agama saling berdampingan dengan budaya. Fanatisme terhadap agama sangat tipis terasa disini, Islam Nusantara kalau orang desa itu menyebutnya. Semoga ketenangan ini masih bisa saya rasakan beberapa tahun yang akan datang ketika saya kembali ke desa itu, iya Semoga ! ____________________________ Foto oleh : ©wisnu bangun saputro Lokasi: Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Tanggal: 23 Juni 2019 Alat: Canon 2...

Harapan Lusuh si Penambang Batu

#CeritaTiapJalan Penambang Batu, Taman Krocok Bondowoso  Matahari telah bergeser ke ujung barat, sepertinya senja akan kembali menyapa. Ku langkahkan kaki mengikuti aliran sungai, airnya berpusat dari beberapa sumber air yang namanya menjadi sebutan sebuah desa, tempat aku bermalam saat itu. Sempat terhenti melangkah, ku lihat dari kejahuan ada ayunan tangan yang melempar bongkahan batu, samar-samar, tapi aku yakin itu tangan lelaki senja. Lalu aku kembali melangkah mendekat, semakin dekat, hingga ku beranikan diri untuk bertanya, dan benar saja lelaki senja dan tak bisa berbahasa indonesia, hanya mampu berbahasa madura. Ali Udin (60) ternyata seorang penambang batu, di Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso. Separuh hidupnya dia lalui dengan menambang batu, yang dia ingat saat pembangunan Bendungan Sampean Baru(*), dia sudah menambang batu. Sempat menjadi seorang petani dan memiliki sawah, namun tidak lama, lagi-lagi kebutuhan hidup yang memaksanya untuk ...