Langsung ke konten utama

Gunung, Sungai, Laut dan Kisah Yang Kian Larut


Berdesakan: Pintu Masuk Pura Luhur Poten Bromo

Sore itu (17/7) saya menunggu kedatangan seorang #TemanJalan, Bang Yan nama panggilannya. Seorang fotografer asal kota Solo, Jawa Tengah. Rencananya dia ingin mengeksplore Probolinggo, kebetulan hari itu bertepatan dengan perayaan Hari Raya Yadnya Kasada Suku Tengger, ok jadwal pertama kita akan naik ke dataran tinggi Gunung Bromo.

Singkat cerita Bang Yan sudah saya jemput di Setasiun Kota Probolinggo, setelah prepare dirumah saya, kami melajuhkan sepeda menuju acara Yadnya Kasada. Sebelumnya kami mampir dirumah salah teman om Astono Singgih, fotografer asal Sapikerep, kabupaten Probolinggo, dimana mas Fano Dwinanda Teman jalan sekaligus fotografer romantis menunggu saya dan bang yan. Setelah ngobrol kesana-kemari seputaran fotografi, kami lanjutkan perjalanan menuju acara tersebut, karena memang waktunya sudah agak malam dan acara akan segera dimulai.
Ramah: Kediaman Om Astono Singgih 
Sampai di Pendopo Ngadisari, tempat dimana acara paggelaran sendra tari digelar kami berhenti, sekedar menikmati sajian kesenian dan tidak lupa mengisi perut terlebih dahulu. Dari beberbagai makanan dan jajalan kami memilih untuk memesan bakso, ya hitung-hitung menghangatkan perut eh tubuh maksudnya. Selain itu jajanan yang menarik mata saya adalah pentol telur, dimana pentol yang digoreng dengan balutan telur ayam.
Kudapan: Pentol Telur, Ngadisari  
Baiklah perut sudah terisi, tenaga mulai pulih selanjutnya kami lanjutkan perjalanan menuju Pura Luhur Poten Bromo, tempat dimana ritual sembayang upacara Yadnya Kasada di Mulai. sesampainya disana kami dirikan tenda, mencari tempat yang tepat. Dari kejahuan saya melihat jaket dan postur tubuh yang sepertinya aku kenal, saya dekati, pura-pura tidak tau sekalian meastikan apa benar orang itu orang yang aku maksud. Kemudian tiba-tiba ada nothifikasi chat di smarphoneku, dan benar saja Om Rahmad Hidayat tepat ada didepanku, mengirimkan foto diriku yang berdiri di depannya (sorry belibet :D) lalu kumpulah semua secara tidak diduga-duga, kami pesan kopi panas, yang panasnya tersamarkan hawa yang dingin, dinginnya udara dataran Gunung Bromo di Kaldera Tengger, sembari tertawa bercanda dan bercerita. 
Candid: Jepretan Om Rahmad Hidayat

Wefie : Selfie bareng oleh Om Rahmad Hidayat
Selanjutnya kami ramai-ramai menuju Pura Luhur Poten Bromo, dengan tujuan bisa menjadi bagian untuk mengabadikan momen setahun sekali ini. Kabut tebal malam itu menambah kesan kesakralan upacara Yadnya Kasada, entah hanya perasaanku saja atau memang begitu situasinya. Berikut jepretan belum jelek dari kamera ponsel saya dalam kegiatan kasada. walaupun kabut intens menutupi mulai malam hari hingga esok harinya.
Berdesakan: Pintu Masuk Pura Luhur Poten Bromo


Warga Suku Tengger menjaga Ongkek (Gapura berupa hasil bumi)

Bali: Komunitas Garuda Bali

Warga Suku Tegger memikul Ongkek (Gapura berupa hasil bumi)

Simbolitas: Tridatu (gelang perlambang kesejahteraan keluarga)

Simbolitas: Tridatu (gelang perlambang kesejahteraan keluarga)

Sajen: Warga Suku Tengger menaruh sesaji seusai sembayang

Sajen: Warga Suku Tengger menaruh sesaji seusai sembayang

Keamanan: Pecalang Jogoboyo menjaga keteraturan pura 

Jepret: Seorang Om Rahmad Hidayat mengabadikan bale Pura yang tertutup Kabut. 
Jam 05.30 pagi kantuk sudah tidak bisa saya tahan lagi, saya putuskan untuk tidak ikut acara inti, yaitu pelemparan hasil bumi ke dalam kawah Gunung Bromo, sebagai simbolitas wujud syukur terhadap kemurahan Tuhan. Saya bersama mas Fano memutuskan untuk kembali ke Tenda mencoba untuk tertidur walaupun sebentar. 

Dingin membangunkan tidurku saat itu (18/7) ku lihat hari sudah terang walaupun kabut masih menutupi kawasan Gunung Bromo dan Kaldera Tengger. Terlihat ramai pengunjung sedang mengabadikan momen dengan berselfie serta ada juga yang satu persatu beranjak pulang.
Tertutup: sebagian Gunung Batok tertutup kabut

Selfie: pengunjung ber selfie ditengah kabut

Suku Tengger mengambil air untuk warung yang ia dirikan

Tukang Ojek Kuda sedang menuntun kudanya
Jam 10.00 Siang kami memutuskan untuk beranjak pulang dengan sebelumnya kami sempatkan untuk sarapan disebuah warung dekat loket masuk Kawasan TNBTS. Selesai sarapan kami mampir sebentar bertemu dengan maestro fotografi Om Misbachul Munir, berbincang-bincang seputar Shutterstock, sebuah Website Miscrostock Jual-beli Foto. Selanjutnya kami pulang dan beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk perjalanan esok harinya.

Keeseokan harinya (19/7) Saya, Bang Yan, dan Teman Jalan Ferry Pepenk berburu foto Sunrice di Pantai Dringu, salah satu spot sunrise terbaik di dekat kota Probolinggo dan melanjutkan beburu sunrice di Bee Jay Bakau Resort Pelabuhan TPI Kota Probolinggo.
Sunrise Pantai  Dringu tertutup mendung

Bang Yan dan Ferry Hidayat sedang mengabadikan sunrise

Momen tak terduga: nelayan pantai dringu bergotong royong memakirkan kapal 
Sore harinya saya dan bang yan melanjutkan perjalanan menuju spot Sumur di tengah aliran sungai (Spillway) di Desa Sumberbulu, Probolinggo, karenakan keunikannya spot ini sempat viral di media sosial, dan mejadi spot menarik yang bisa jadi tujuan jika ingin spot gratis dan unik. sesampainya disana Kondisinya agak kotor banyak sampah yang terangkut dibibir sumurnya. Dengan sigap Bang Yan mengambil Bambu dan membersikan sampah tersebut, sebab jika di foto tidak bagus kalau tidak dibersihkan. 
Bang yan dengan sigap membersihkan sampah  
Bang yan dengan sigap membersihkan sampah  


Kondisi setelah dibersihkan

Tidak terasa kumandang adzan Magrib sudah sudah terdengar, kita siap-siap untuk pulang, lebih tepatnya sih mengantar Bang Yan ke Stasiun, yups dia pulang hari itu, jumat (19/7) tiketnya jam 19.00 wib. Setelah beres-beres kami melajukan sepeda menuju setasiun. Disanalah akhir cerita perjalanan Gunung, Sungai, Laut dan Kisah Yang Kian Larut.

Terima kasih Teman Jalan atas Canda, Tawa dan Kisah yang tak akan pernah terulang.

_____________
Pengambilan Foto menggunakan
Smartphone Sony Mobile Xperia Z3+
_____________
Foto oleh : wisnu bangun saputro©2019
Teman Jalan: Bang Yan, Fano Dwinanda, Ferry Pepenk, Astono Singgih, Rahmad Hidayat
Lokasi: TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), Pantai Dringu, dan  Spillway Desa Sumberbulu, Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia
_____________
#CeritaTiapJalan
#TemanJalan
#MariBercerita
#Fotobercerita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WEDDING MINIMALIST GLAMOUR

From wedding Roni & Rani Minimalist Glamour Wedding wisnubangunsaputro.copyright.2020 Reservasi WA/TELP 085334550463  

MUSLIM WEDDDING MINIMALIST

  From Prewedding Abdulloh & Zahro MUSLIM WEDDDING MINIMALIST, PROBOLINGGO 2021 wisnubangunsaputro.copyright.2021 Reservasi WA/TELP 085334550463

BROMO CASUAL PREWEDDING

  PreWEDDING CONCEPTUAL FROM PREWEDDING  CAHYA & SELLA wisnubangunsaputro.copyright.2019 RESERVASI 085336054124 WA/TELP